4/6/15

pesan yang (tidak) singkat.

Hampir 3 tahun aku menetap di kota Jogja. Kota yang bisa membuatku benci dan jatuh cinta disaat yang bersamaan. Setiap kali liburan semester, aku selalu memaksa diriku untuk bisa kembali ke kota ini. Lalu bergelut dengan rutinitasku. Memaksa setiap molekul yang ada di dalam tubuhku untuk menyatu dan siap menghadapi segala hal buruk yang akan datang. Itulah yang kurasakan ketika harus menjalani hal yang sama sekali tidak kusuka. Klise memang
Aku benci lingkunganku, sejujurnya. Aku sama sekali tidak menyukai apa yang kujalani saat ini. Dulu, ketika awal-awal berada di kota ini, aku menemukan cara untuk kabur dari realita yang ada. Menemukan sebuah tempat. Dunia baru dengan orang-orang baru dan penuh pemikiran positif. Mereka sangat menyenangkan. Aku bekerja seperti tanpa beban. Pekerjaan yang sangat menggembirakan. Tetapi itu tidak berlangsung lama karena setelahnya aku harus berhenti bekerja dan kembali ke dunia yang sedang kujalani.

Di kesempatan lainnya, aku memberanikan diriku untuk menjelajah tempat yang sama sekali belum pernah kusinggahi. Aku dan diriku sendiri. Untuk pertama kalinya, aku merasa hidup meski hanya seminggu. Pada kesempatan kedua aku kembali berlibur. Begitu juga ketiga kalinya. Seolah semesta berkonspirasi ingin menyampaikan sebuah pesan di setiap tempat yang kudatangi. Bahwa aku harus tinggal di kota lain. Kota tempatku berlibur. Setiap kali aku berada disana, aku merasa bahwa tempat inilah yang kuinginkan selama ini. Pepohonan, padang yang luas, pantai, dan orang-orang yang mempunyai jiwa unik. Aku bisa merasakan nya. 
Sedangkan, tempat dimana aku lahir, dibesarkan, dan menimba ilmu akademis penuh dengan gedung-gedung tinggi bertingkat. Belum lagi banyak nya jumlah kendaraan yang bisa membuatku pengap karena polusi yang dihasilkan.

Dua malam sebelumnya, aku menyempatkan diriku datang ke sebuah konser musik bernama lelagu di kedai kebun. Banyak sekali musisi yang belum pernah kudengar sebelumnya. Sejenak aku ragu untuk datang. Namun setelah berada di sana, lagu-lagu yang dimainkan seperti sebuah sihir. Tempat kecil bernama kedai kebun itu seperti disihir menjadi tempat yang indah seiring dengan lagu-lagu yang dibawakan. Aku kembali bertemu dengan jiwa-jiwa yang pandai menyihir. Kali ini melalui musik.

Mungkin beberapa dari kalian yang membaca menganggap ini aneh (atau malah tidak ada yang membaca). Tapi, semenjak pulang dari acara lelagu dua hari yang lalu, aku seperti disadarkan bahwa Jogja memanglah tempatku untuk belajar. Baik secara akademis maupun kehidupan. Dikota ini aku banyak belajar bahwa membangun atau merealisasikan mimpi-mimpiku sendiri tidaklah mudah. Belum lagi cibiran dari orang-orang sekitar. orang-orang yang sudah terbiasa mengambil langkah aman. Kuakui hidup di Jogja perlahan membentuk kepribadianku. Aku seperti hidup di dua dunia yang berbeda. Jogja dan Jakarta sangatlah berbeda.
Di kota ini takdir mempertemukanku dengan seniman-seniman hebat. Yang mungkin dari luar terlihat biasa saja, bahkan sering makan di angkringan, tetapi karya yang diciptakan sudah menggema di berbagai dunia. Langkah nya lebar terbentang di berbagai belahan bumi. Aku takjub. Terinspirasi melalui karya-karya yang mereka hasilkan. Mereka unik. Punya cara sendiri untuk mengekspresikan pikiran mereka. 
Aku mengenal seseorang. Bahkan berteman baik sampai saat ini. Dari cara berpakaian, dia tampak seperti seorang gypsy--(mungkin ia membeli seluruh pakaian nya di Free People). Bayangkan jika ia hidup di Jakarta. Sudah pasti ia akan berada di luar garis kesetaraan. Dari situ aku belajar bahwa tidak seharusnya menilai seseorang dari pakaian yang ia kenakan. Tapi apa yang sudah ia hasilkan.

Pada dasarnya, setiap jiwa manusia adalah seorang penjelajah. Penjelajah waktu. Penjelajah tempat. Penjelajah pikiran. Namun hanya beberapa orang yang berani melakukan nya. Manusia, berasal dari satu tempat yang sama, tapi lahir dengan karakter yang berbeda satu sama lain. Beberapa berani menggali dan menemukan diri yang sebenarnya, beberapa hanya diam dan mengikuti arus yang lurus. Aku? Aku berada ditengah-tengah kedua nya. Dunia yang kujalani saat ini terasa seperti lubang hitam. Pekat dan menakutkan. Menerorku setiap harinya. Terus menerus aku merasa seperti ditolak sehingga tidak bisa mengikuti kehidupan yang kujalani saat ini. Karena aku tidak mempunyai kemampuan yang sama untuk bisa berjalan seimbang dengan orang-orang disekitarku. Mereka mengejar dunia yang sangat jauh dari impianku. Keinginan kami berbeda. Sedangkan aku dipaksa untuk bisa seperti mereka.

Seorang temanku berkata bahwa aku pasti bisa merobek setiap ruang yang ada untuk keluar dari lubang hitam ini. Masih ada secercah cahaya jika aku mampu dan percaya pada kekuatanku sendiri. Suatu hari nanti, ketika sudah saatnya, aku akan berada di dunia baru katanya. Aku harap semesta menitipkan pesan kepada orang-orang yang kutemui dan setiap tempat yang kudatangi.

Duh, lama-lama hidupku terdengar seperti sebuah cerita fiksi. Mungkin karena aku terlalu banyak membaca buku dan menonton film fiksi. Ah, sudahlah. Aku harus kembali berkutat dengan tugas-tugas kuliahku.

terima kasih sudah mau mampir dan membaca.
x

4/4/14

Kedai Kopi

Kulangkahkan lagi kaki ku ke tempat yang sama
Kedai kopi di sudut kota
Tidak ada yang berubah
selain pegawai kedai kopi yang bertambah
kuhempaskan tubuhku di tempat duduk yang sama
kenangan lama
aku mengeluarkan buku kecil yang selalu ku bawa kemana pun
menulis kan hal-hal yang ada di pikiranku
menggambar sesuka hatiku
sekarang pukul setengah lima sore
langit diatas berwarna oranye
sebuah lagu melantun merdu
lucu ya, bagaimana bisa musik membawa ku terbang ke dimensi lain
dimensi yang tidak ada di masa sekarang
masa lalu
masa depan
semua masih abstrak

aku memesan secangkir kopi yang sama seperti dua tahun lalu
kedai kopi ini selalu menjadi tempat favoritku
tempatku menuangkan semua ide yang ada dalam kepalaku
tempatku bercerita
suatu cara untuk terbang ke dimensi lain juga

After The Fall dari Norah Jones pun sudah diulang berkali-kali
Buku kecilku sudah hampir kehabisan kertas
Secangkir kopi yang kupesan tadi, sudah habis kutegak
Kedai kopi di sudut kota ini selalu menjadi tempat favoritku

Tempat yang mengingatkanku ketika hujan di awal desember saat itu.

3/15/14

her.

have you watched Spike Jonze's Her yet? I've watched it before, but today I went to the theatre to watch it again. you know how much I like watching movies even if I had no one to go with, so yeah I went there alone.
well, although I have watched it before, but Her brought me some tears, actually. I don't know why did I cry during the movie, was it because the words or maybe I'm just being too emotional because of the period.
speaking about Her, I'm gonna put it into my favorite movie list right now. I love the story, how Theodore loves Samantha who is actually an OS. I love the soundtrack. I do love it. how the music represents every single scene. last but not least, the film is beautiful. I mean, I love how Jonze pays attention to details in it. the tone, the angle, the expression, the places, everything.
Her reminds me about something. Lost In Translation. yes, somehow I feel like Jonze's film is an answer for Sofia Coppola's Lost In Translation.
Lost In Translation.







many people said that John in Coppola's film is for her ex-husband. and it shows how the character of Charlotte feels about her marriage life until finally she meets Bob. I watched Lost In Translation many years ago, after watching it, I was like omg it was such a sad sad sad story. it shows that we, human being, cannot stand alone. neverwe always need someone else in order to live. have a company to share stories, get things done with, and build dreams together.
meanwhile, after watching Her twice, it was also trying to say the same thing just like in Coppola's film. we always looking for someone to talk to, unfortunately, when we cannot find someone to share stories, we run into technologies. we live with super high technology. how terrible if we would have a relationship with our own operating system rather than a human being.
in Jonze's film, Theodore has just divorced from his wife, Catherine, and seems like he still loves her.
well, in my opinion, the character of Catherine refers to Sofia Coppola. this two films are connected.
after the film ends, I thought about another opinion. why don't these two directors get back together and make a collaboration? something like a comedy-romance film? it would be awesome, I guess.


Her.